Dokter Di Bontang Dalam 2 Minggu Tangani Anak Melahirkan Belasan Tahun. Orang Tua Remaja Harus Lebih Waspada
BONTANG – Pada pintu Ruang Unit Gawat Darurat (UGD) itu terbuka tergesa-gesa. Seorang anak perempuan berusia 15 tahun di Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) meringis, memegangi perutnya yang nyeri hebat. Orang tuanya panik, mengira sang buah hati hanya mengalami gangguan pencernaan biasa.
Namun, diagnosis dokter justru bagai petir di siang bolong: remaja itu sedang dalam proses persalinan. Fenomena ini bukan sekali terjadi. Bagi dr. Pakhruzzabadi, Sp.OG, pemandangan memilukan ini telah menjadi rutinitas yang mengkhawatirkan di meja praktiknya dalam dua pekan terakhir.
Dokter spesialis kandungan yang berpraktik di RS Amalia Bontang ini membagikan keresahannya. Dalam waktu hanya dua minggu, ia telah menangani tiga persalinan anak usia belasan tahun dengan pola cerita yang hampir identik.
“Masuk ke IGD dengan keluhan nyeri perut hebat. Ternyata saat diperiksa, ketahuan hamil dan orang tua tidak tahu,” cerita dr. Pakhruzzabadi dengan nada getir.
Bahkan, saat ditanya berulang kali, para remaja ini bersikeras tidak pernah melakukan hubungan seksual. Sebuah penyangkalan yang membuat sang dokter terpaksa melempar sindiran pedas.
“Saya sampai bilang, ternyata di Bontang ini banyak yang tanpa disentuh lelaki bisa hamil. Tapi itu bukan hal yang penting. Yang penting adalah dampak buruknya,” tegasnya.
Selain masa depan remaja yang terancam, dr. Pakhruzzabadi menyoroti nasib bayi-bayi yang dilahirkan. Dari tiga kasus terakhir, semua bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR).
Satu bayi bahkan tidak selamat karena kondisinya yang ekstrim kecil, sementara dua lainnya berjuang hidup dengan berat hanya sekitar dua kilogram. Inilah yang ia sebut sebagai “pintu masuk” utama stunting yang sebenarnya.
Ia mengingatkan, di tengah gencarnya pemerintah mengampanyekan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), ada masalah di hulu yang luput dari perhatian: kualitas kelahiran.
“Bayi-bayi ini lahir kurang gizi. Ibunya tidak minum vitamin saat hamil karena memang disembunyikan. Setelah lahir, mereka kemungkinan besar tidak akan diberi ASI karena ketidaktahuan sang ibu,” jelasnya.
Menurut dr. Pakhruzzabadi, memberikan makan bergizi sebanyak lima kali sehari pun tidak akan menyelesaikan masalah jika bayi sudah lahir dalam kondisi stunting akibat kehamilan remaja yang tidak terencana.
Ia berharap kondisi miris ini menjadi perhatian serius, baik bagi orang tua untuk lebih waspada menjaga pergaulan anak, maupun bagi pemerintah untuk melihat celah dalam penanganan stunting.
“Semoga ini jadi perhatian kita semua. Kita butuh solusi untuk keadaan yang sangat miris ini,” tegasnya.
