Lakukan Pemetaan Bahaya Gempa Bumi Cianjur, Berikut Hasil BMKG

KHATULISTIWA | Cianjur, Jawa Barat

Pemetaan bahaya gempa bumi akibat Sesar Cugenang oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah selesai, terdapat beberapa zona bahaya beserta kriterianya dan rekomendasi yang disampaikan kepada Pemerintah Daerah (pemda).

Pada 22 Desember 2022, BMKG berhasil menyelesaikan pemetaan bahaya gempa bumi yang diakibatkan oleh aktivitas Patahan/Sesar Cugenang. Pemetaan ini merupakan hasil pemutakhiran dari peta bahaya gempa bumi karena Patahan/Sesar Cugenang yang sebelumnya telah dirilis di website BMKG pada 10 Desember 2022.

Pemutakhiran tersebut dilakukan karena menyesuaikan dengan perkembangan kelengkapan data monitoring di lapangan, serta adanya dukungan data dari instansi lain yang sifatnya menguatkan hasil analisis dari BMKG.

Adapun data yang digunakan BMKG untuk analisis dalam penyusunan Peta Bahaya Sesar Cugenang tersebut antara lain adalah data hasil monitoring posisi, sebaran dan magnitudo gempa utama dan gempa-gempa susulannya, yang disertai dengan analisis mekanisme sumber gempa bumi (focal mechanism).

Kemudian analisis makroseismik terhadap pola sebaran intensitas guncangan dan tingkat kerusakan bangunan; analisis directivity frekuensi gelombang gempa; serta analisis spektrum gelombang seismik dan Interpretasi anomali gaya berat (gravity).

Sedangkan analisis oleh instansi dari luar BMKG yang menguatkan analisis BMKG, yang pertama adalah analisis deformasi permukaan berbasis satelit (InSAR) yang dilakukan oleh peneliti BRIN dan MAPPIN yakni Bapak Dr. Agustan.

Hasil analisisnya memiliki arah kurang lebih sama dengan arah jurus yang ditetapkan oleh BMKG berdasarkan data kegempaan atau focal mechanism, yakni berarah Barat Laut – Tenggara. Sedangkan data kedua yang menguatkan analisis BMKG yakni data displacement (perpindahan) Global Positioning System (GPS) dari Badan Informasi Geospasial (BIG) yang terpasang di Cianjur, juga menunjukkan arah Tenggara pada saat kejadian gempa bumi utama di Cianjur pada 21 November 2022 lalu.

Proses verifikasi pun telah dilakukan sebagai langkah koordinasi untuk menyamakan pemahaman antara BMKG dan Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur, terkait zona-zona yang akan ditetapkan sebagai zona bahaya, terutama untuk tempat-tempat yang memiliki dampak yang signifikan dan kerusakan parah.

Dari hasil verifikasi sebagaimana yang dikutip InfoPublik dari laman resmi www.bmkg.go.id pada Selasa (10/1/2023) dihasilkan tiga zona bahaya gempa bumi yakni zona terlarang (merah), zona terbatas (orange) dan zona bersyarat (kuning).

Zona terlarang (merah) memiliki kriteria zona dengan sempadan patahan aktif Cugenang 0 – 10 meter ke kanan dan ke kiri tegak lurus jurus patahan, yang merupakan zona kerentanan sangat tinggi akibat deformasi dan getaran gempa, dan/atau merupakan zona kerentanan tinggi gerakan tanah (longsor).

Adapun rekomendasi yang BMKG berikan terhadap zona terlarang ini yakni zona harus dikosongkan/bangunan yang ada direlokasi, dilarang pembangunan kembali dan pembangunan baru.

Di prioritaskan juga pada zona terlarang ini untuk pemanfaatan ruang sebagai ruang terbuka hijau (RTH), monumen atau kawasan lindung. Zona terlarang ini memiliki luas 2,63 km2 yang meliputi empat kecamatan dan 12 desa, yaitu :

  • Sebagian wilayah dari Kecamatan Cilaku khususnya di sebagian wilayah Desa Rancagoong;
  • Kecamatan Cianjur yakni sebagian dari Desa Nagrak;
  • Kecamatan Cugenang yakni sebagian dari Desa Cibulakan, Benjot, Sarampad, Gasol, Mangunkarta, Cijedil, Nyalindung dan Cibeureum;
  • Kecamatan Pacet yakni sebagian dari Desa Ciputri dan Ciherang.

Untuk zona terbatas (orange), zona ini memiliki kriteria dengan sempadan patahan aktif Cugenang 10 meter hingga 1 kilometer ke kanan dan ke kiri tegak lurus jurus patahan, merupakan zona kerentanan tinggi akibat deformasi dan getaran gempa, dan/atau merupakan zona kerentanan menengah gerakan tanah (longsor).

Adapun rekomendasi yang BMKG berikan terhadap zona terbatas tersebut yakni dapat dibangun konstruksi dengan penerapan persyaratan yang sangat ketat untuk standar bangunan tahan gempa dan/atau tahan gerakan tanah.

Pada zona ini juga dilarang pembangunan fasilitas sangat penting dan berisiko tinggi, misalnya rumah sakit dan sekolah bertingkat, fasilitas energi (kilang minyak), dan fasilitas sejenisnya.

Untuk zona bersyarat (kuning) memiliki kriteria dengan sempadan patahan aktif Cugenang lebih dari 1 kilometer ke kanan dan ke kiri tegak lurus jurus patahan, yang merupakan zona kerentanan menengah hingga rendah akibat deformasi dan getaran gempa, dan/atau merupakan zona kerentanan rendah hingga sangat rendah (aman) gerakan tanah (longsor).

Adapun rekomendasi yang BMKG berikan terhadap zona bersyarat yakni dapat dibangun dengan konstruksi tahan gempa dan/atau tahan gerakan tanah/longsor.

Dengan dihasilkannya peta bahaya gempa bumi Cianjur yang dipicu Patahan Cugenang dari BMKG tersebut, diharapkan peta tersebut dapat segera dimanfaatkan secara maksimal dalam tahap rekonstruksi dan rehabilitasi yang sudah dimulai di Kabupaten Cianjur.

Bahkan, peta ini sangat penting sebagai salah satu acuan dalam penyempurnaan peta tata ruang wilayah Kecamatan Cugenang, demi mencegah atau mengurangi risiko kerusakan bangunan, lahan/lingkungan ataupun korban jiwa dan kematian apabila gempa bumi yang dipicu oleh Patahan Cugenang ini terjadi lagi di masa yang akan datang. (BMKG)

Pos terkait