Meskipun Diguyur Hujan, Pembukaan Situmbuak Art and Culture Festival Mendapat Animo Tinggi dari Masyarakat Situmbuak

KHATULISTIWA | Tanah Datar

Walaupun diguyur hujan lebat sejak pagi, semangat warga masyarakat Nagari Situmbuak Kecamatan Salimpaung tidak luntur untuk melaksanakan program unggulan Daerah Satu Nagari Satu Event Situmbuak Art and Culture.

Pembukaan Situmbuak Art and Culture Festival oleh Bupati Tanah Datar Eka Putra, SE,MM dengan tema Maantaan Padi jo Mangubang, Sabtu (19/8) Lapangan Bola Kaki Nagari Situmbuak Kecamatan Salimpaung itu pun berjalan lancar dan sukses.

Tampak hadir pada acara pembukaan tersebut Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat Arkadius Dt. Intan Bano, Ketua DPRD Tanah Datar H. Rony Mulyadi Dt. Bungsu, Bupati Tanah Datar periode 2005-2015 M. Shadig Pasadigoe, anggota DPRD kabupaten Tanah Datar, Ketua TP PKK Tanah Datar Ny. Lise Eka Putra, Ketua IKA DPRD Kabupaten Tanah Datar Ny. Afrida Rony Mulyadi, Kepala OPD, Camat beserta Forkoimca, Wali Nagari se Kecamatan Salimpaung, angku-angku, niniak mamak, cadiak pandai, alim ulama, bundo kanduang, tokoh masyarakat, pemuda dan undangan lainnya itupun berjalan sukses dan lancar.

Dalam sambutannya, Bupati Eka Putra mengajak seluruh masyarakat Nagari Situmbuak untuk meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan serta bersama-sama membangun nagari dan kabupaten Tanah Datar lebih baik lagi ke depannya.

“Di momen peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 78 ini, Saya mengajak kepada segenap masyarakat untuk terus menjaga persatuan dan kesatuan serta membangun kabupaten yang kita cintai ini untuk lebih baik lagi,” ujarnya.

Selanjutnya, Bupati Eka Putra juga menyampaikan apresiasi kepada Ketua dan seluruh anggota panitia Situmbuak Art Culture Festival beserta seluruh masyarakat yang telah ikut berpartisipasi dalam mensukseskan kegiatan ini.

“Hari ini sungguh luar biasa, walaupun hujan mengguyur sangat lebat tetapi antusias masyarakat sangat luar biasa untuk mensukseskan acara yang bertema Situmbuak Maantaan Padi jo Mangubang ini. Inilah tujuan program Satu Nagari Satu Event, yang mana melalui program ini tradisi yang sudah lama akan muncul kembali sehingga para generasi muda kita bisa mengenal tradisi-trasisi yang sudah lama ditinggalkan,” katanya.

Selain itu, Bupati Eka Putra juga mengatakan bahwa program unggulan Satu Nagari Satu Event juga sebagai ajang mentransfer ilmu dari para niniak mamak kepada generasi muda dan juga akan membangkitkan kembali sanggar-sanggar kesenian yang ada di nagari, sehingga efeknya akan dirasakan oleh pelaku UMKM yang ada di nagari.

Lebih lanjut, Bupati juga mengajak kepada seluruh masyarakat untuk mendukung seluruh program unggulan Pemerintah agar manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Mari bersama-sama kita sukseskan program-program unggulan yang sudah kami janjikan, mudah-mudahan dengan bantuan dan doa dari seluruh masyarakat program-program ini bisa dirasakan oleh masyarakat di Tanah Datar khususnya di Nagari Situmbuak,” ajaknya.

Sementara, kepada seluruh generasi muda juga diminta untuk ikut berpartisipasi dalam menjaga dan melestarikan kebudayaan masyarakat tempo dulu yang saat ini sudah mulai memudar.

“Mulai saat ini mari kita bersama-sama lestarikan, mari kita tampilkan dihadapkan publik, kita tampilkan disaat ada tamu atau wisawatan, supaya budaya kita tetap ada dan lestari,” pungkasnya.

 Sebelumnya, Ketua pelaksana acara Amril Bustian dalam laporannya mengatakan bahwa Situmbuak Art Culture Festival akan berlangsung selama 3 hari sampai tanggal 21 Agustus mendatang dengan rangkaian kegiatan pawai adat dan budaya, penampilan parade dengan tema Maataan Padi jo Mangubang, berbagai penampilan kesenian anak nagari.

Selain itu juga ada penampilan kesenian Randai Puti Bungo Awan, lomba lagu Minang, permainan tempo dulu, dan ditutup dengan kegiatan gerak jalan sehat.

Pada acara pembukaan tersebut juga ditampilkan atraksi mangalamai dan mangubang yang biasa dilakukan oleh warga masyarakat setempat diwaktu sebelum dan sesudah menggelar pesta pernikahan.

Mangalamai, menurut warga setempat ialah prosesi memasak galamai yang nantinya akan digunakan untuk pesta pernikahan. Sementara, mangubang dilakukan pada hari ke tiga setelah pesta pernikahan. Biasanya untuk mangubang pihak sumandan membawakan air mentah ke rumah pengantin perempuan yang selanjutnya air tersebut digunakan untuk kebutuhan memasak.

Kebiasaan ini dimasa dahulunya dilakukan oleh nenek moyang mereka karena kondisi air di daerah tersebut sulit, jadi sumandan mengambil air dari pincuran yang letaknya jauh dari pemukiman warga. Namun demikian, walau kondisi saat ini sudah berbeda, tetapi tradisi mangubang ini masih tetap dilakukan oleh masyarakat setempat.

Pada acara pembukaan tersebut juga ditampilkan tari kolosal Panggilan Bumi yang dibawakan oleh anak Nagari Situmbuak mulai dari siswa SD sampai SMA sederajat.

Tari kolosal Panggilan Bumi ini menggambarkan kehidupan sehari-hari warga masyarakat Nagari Situmbuak. (El)

Pos terkait